September 16, 2017

Lily's Seoul Trip - Akomodasi

Annyeong! Ini seri kedua dari postingan Seoul Trip dan aku akan membahas tentang masalah Akomodasi. Di postingan ini juga aku akan sedikit menyinggung soal pembuatan visa karena kebetulan untuk soal visa pun aku ngurus sendiri hehe.

Untuk membuat visa korea sebenernya gampang, cuman persyaratannya yah agak-agak kepo dikit gitu dan lumayan banyak permintaan. Tapi sesungguhnya, walaupun banyak yang harus disertakan dan diurus surat-suratnya, asalkan semua berkas lengkap sih seharusnya permintaan visa kamu (insya Allah) diterima (seharusnya) yaa... Berikut adalah berkas-berkas yang harus disiapkan:
  • Paspor Asli dan Fotokopi Paspor (halaman identitas beserta visa/cap negara-negara yang telah dikunjungi)
  • Formulir Aplikasi Visa (dengan satu lembar foto yang ditempel pada kolom foto)
  • Kartu Keluarga atau Dokumen yang dapat membuktikan hubungan kekeluargaan
  • Surat Keterangan Kerja dan Fotokopi SIUP Tempat Bekerja
  • Surat Keterangan Mahasiswa/Pelajar, bagi yang masih bersekolah
  • Fotokopi Bukti Keuangan, yaitu Surat Pajak Tahunan (SPT PPH-21), rekening koran tabungan 3 bulan terakhir, dan surat referensi bank.
Oiya pas ngajuin visa, aku ngga bilang kalo aku kerja, bilangnya ibu rumah tangga aja, jadi aku menyertakan bukti sponsorship suami (suratnya ngetik sendiri pokoknya isinya bilang kalo semua keperluan aku selama di Korea akan ditanggung suami), jadi untuk rekening koranpun yang aku sertakan adalah rekening koran suami. Oiya surat referensi bank itu kita minta ke bank nya, isinya kalau selama kita jadi nasabah kita ngga pernah ada masalah (bilang aja mau bikin visa pasti bank nya ngerti kok). Anyway kita harus menyertakan pas foto latar belakan putih ukuran 3,5x4,5 cm sebanyak 2 lembar (satu ditempel di form aplikasi visa yang bisa diunduh di website kedutaan korea), aku sendiri pake foto ukuran 4x6 yang aku potong manual dan ngga ada masalah hehe. Kebetulan aku ngga ke kedutaan langsung, aku titip semua berkas yang sudah lengkap ke temen aku yang kebetulan bakalan berangkat bareng juga dan ngga ada masalah karena ngga perlu pake wawancara segala kaya visa Amerika 🙂 Anyway, meskipun tidak wajib, sebaiknya saat menyerahkan aplikasi, sertakan juga tiket pesawat dan hotel untuk lebih meyakinkan kalau kamu sudah siap untuk berangkat. Dan untuk jumlah tabungan yang disiapkan, amannya sih sediakan sekitar 1jutaan perorang/hari, jadi kalau kamu ke korea sendiri selama seminggu ya di rekening koran kamu minimal ada Rp 7juta rupiah.

Untuk biaya single visit visa ini Rp 544.000,- dibayar cash di muka dan ngga bakal dikembaliin kalo misalnya berkasnya ngga lolos... Jadi pastikan berkas lengkap sebelum dikirim ke kedutaan yaa! Visa akan jadi sekitar 3-4 hari kerja (kalau ngga salah), jangan lupa penyerahan aplikasi dilakukan dari jam 9.00-11.30 dan jam pengambilan visa adalah jam 13.30-16.30.

Ps: perhatikan di bawah form aplikasi ada tulisan kalo form harus diprint di kertas A4 yang 80gr ya!

Oke selanjutnya mari bahas tiket pesawat! Aku kebetulan dapet tiket pesawat dengan harga lumayan murah (sekitar 5juta kurang perorang) karena aku beli dari lumayan jauh-jauh hari (sekitar 1,5 bulan sebelum). Karena kebetulan aku naik Air Asia, jadi aku harus beli bagasi secara terpisah, total uang yang aku tambah untuk membeli bagasi adalah sekitar 1,4juta untuk 20kg pulang pergi. Setelah dipikir-pikir lagi kenapa ya aku ngga beli maskapai lain yang lebih bagus dengan harga sama tapi sudah termasuk bagasi? Haha yasudahlah toh selama perjalanan aku cuma tidur aja :p Waktu itu pesawat aku berangkat dari CGK jam 1.30 dini hari dan mendarat di Kuala Lumpur subuh-subuh. Di sana aku sarapan dan beli roti sebagai perbekalan (karena Air Asia tidak diberi konsumsi yaa) dan kita transit sekitar 3,5 jam. Berangkat dari Kuala Lumpur lagi jam 8 pagi dan mendarat di Incheon sekitar jam 4 sore waktu setempat.
Incheon!


Dari Incheon, ada berbagai pilihan untuk menuju ke pusat kota Seoul. Dan kebetulan kami memilih naik AREX (lupa apa kepanjangannya tapi intinya itu kereta ekspress dari bandara ke Seoul Station) karena harganya lumayan bersahabat tentunya daripada naik taksi yakni sekitar 8000 won (satu won itu sekitar 13 perak). Sebenernya sih kita bisa juga naik kereta yang ngga ekspres alias Seoul Metro biasa, tapi karena habis perjalanan jauh ya capek dan kereta biasa itu berhenti-berhenti di banyak stasiun, ya kami pilih yang ekspres tanpa mampir-mampir dulu. Untuk naik AREX ini caranya gampang, dari tempat ambil koper tinggal cari aja yang kaya loket-loket beli tiket otomatis (tenang ada bahasa inggris kok di mesinnya).

Sesampainya di Seoul Station, kami beruntung ngga usah harus nyambung naik Seoul Metro lagi karena penginapan kami deket Seoul Station. Kita sewa satu apartemen gitu dari AirBnB (karena kebetulan kita ada 6 orang dan 1 bayi yang berangkat bareng). Apartemen nya super cute, bersih, dan nyaman banget! Ada 3 kamar, ada dapur, mesin cuci, setrika, 2 kamar mandi, tv, ac, hair dryer, handuk, peralatan mandi... Selain itu karena si pemilik apartemen ini tau kalo bakalan ada bayi yang ikut, doi juga nyiapin mainan bayi lho! Kalo penasaran sama penginapannya, ini aku kasih link AirBnB nya. Oh iya untuk penginapannya, harganya sekitar 2juta permalam, jadi kalo dibagi 6 orang, satu orang cuman bayar sekitar 350rb kurang, super good deal kan??
Me with jutek face in front of our penginapan (yang pintu coklat)

The beautiful dapur di penginapan
Kamarku di penginapan


Untuk makan, seperti yang aku bilang di postingan sebelumnya, aku memang ngga wisata kuliner di Seoul. Kebetulan temenku bawa beras dan banyak perbekalan semacam rendang dan dendeng dari Indonesia, jadi kadang kita sarapan atau makan malam pake nasi rendang aja hehe. Aku juga beli sereal dan susu di supermarket lokal buat sarapan dan banyak mie instan korea juga, lumayan penghematan! Harga makanan di korea sendiri variatif, aku pernah makan bibimbap di restoran biasa gitu harganya sekitar 6000won, pernah juga makan chicken galbi dengan porsi jumbo bisa buat bertiga dengan harga 20000won. Aku sendiri kalo jajan-jajan sih seringan jajan di indomaret korea gitu beli sandwich atau onigiri kalo laper di tengah jalan (harganya sekitar 900-2000 won). Oiya kadang aku juga beli bento-bento di indomaretnya gitu dan harganya lumayan murah daripada makan di restoran (sekitar 3000-5000won).

Untuk transportasi, sehari-hari pas di sana aku naik Seoul Metro atau bus. Sebenernya untuk turis lebih mudah naik Seoul Metro karena ada tulisan latin nya (kalo di bus petanya semua tulisan hanggul haha jadi kadang akupun suka nyasar walaupun bisa baca hanggul). Untuk naik kereta dan bus, sebaiknya kita punya T-Money (semacam elektronik money) jadi tinggal tap-tap aja pas naik dan turun. Kalo kita pake T-Money, harga kereta dan bus nya lebih murah dibandingkan kalau kita bayar cash atau pake tiket sekali jalan. Harga T-Money sendiri variatif dan yang paling murahnya adalah 2500 won (kartunya aja). Temen aku beli yang gambar tokoh LINE harganya 4000won, dan aku beli yang gambar anggota boyband BTS harganya 5000won wkwk. Sebenernya pas di bandara, kata temen aku bisa beli T-Money, tapi waktu itu aku ngga beli di bandara dan beli di Indomaretnya Seoul aja haha. Untuk naik kereta atau bus biayanya sekali naik sekitar 1300 won (jauh dekat tarif flat), jadi selama aku di sana, kalo mau naik kereta dan liat di peta cuman sekitar 3 stasiun, kadang aku suka jalan kaki aja heheh..

Oke sekian postingan tentang akomodasi aku selama di Seoul. Nantikan postingan selanjutnya mengenai itinerary jalan-jalan aku selama di sana yaa~ Annyeong!

Lily's Seoul Trip Overview

Finally, the post that many of you are already waiting for...

Waktu aku liburan ke Seoul sekitar 2 minggu yang lalu, lumayan banyak teman-teman (ngga banyak-banyak amat sih wkwk) yang liat postingan dan instagram story aku dan minta itinerary sama rekomendasi what to do in Seoul. Okelah untuk menjawab request-request tersebut satu persatu, I will try to write in depth about my experience there. So get ready because this story will be separated into several topics (and it'll be better if you read them all ☺️).

Alasan aku jalan-jalan ke Seoul awalnya bukan karena aku anaknya penggemar korea banget. Iya sih aku suka nonton beberapa drama korea dan dengerin k-pop, tapi aku bukan die hard fans to begin with. Aku ngga pernah kepo korea lebih sebelumnya, bahkan aku ngga pernah kebayang mau tinggal atau kuliah di Korea. Jadi alasan kenapa akhirnya aku menguras tabungan untuk jalan-jalan ke Korea adalah karena suami aku ikutan Seoul Architecture Biennale, dan karena aku bantu sedikiiiit (banget haha), aku juga mau dong liat pameran skala internasionalnya doi heheh.

The Mycotree buah tangan tim~

But unexpectedly,when I was there, I started to fall in love with Seoul... Sebenernya aku lumayan murah sama yang namanya negara maju, aku ke Singapur aja rasanya hepi banget karena ngga usah nyetir, naik ojek panas-panasan atau naik angkot; I am a subway fans. Dan tentu saja karena Korea adalah negara maju, mereka juga punya fabulous train system which I am dying to live with everyday. Sebenernya sih to be honest, MRT Singapur lebih gampang dimengerti daripada Seoul Metro karena semua sign systemnya full berbahasa Inggris dan selama aku ke Singapur beberapa kali ngga ada stasiun yang terlampau gede. Kalo di Seoul, aku pernah nyasar beberapa kali di dalam Seoul Station karena itu stasiun gede banget dan aku hampir gak bisa keluar 😂 Tapi akhirnya setelah beberapa kali coba lagi-coba lagi, Seoul Station sudah bukan lagi halangan untuk aku jalan-jalan haha. Another thing I love about negara maju adalah, I love jalan kaki! Karena di Indonesia trotoarnya amit-amit (dan bahkan di banyak tempat kagak ada trotoarnya!), aku selalu suka jalan-jalan ke tempat yang memungkinkan aku untuk jalan kaki yang banyak! Terbukti pas dicek, sehari-hari selama aku di Seoul aku jalan kaki sekitar 20ribu langkah perhari! Sementara kalo di Bandung, 2000 langkah aja susah rasanya 😅
Bandara Incheon

If I can say, my trip to Seoul was the most heartwarming trip I've ever had. Aku suka banget karena orang-orang Seoul almost all of them are super stylish and fashionable. Ibarat kata kalo dulu aku kuliah di FSRD ITB rasanya seneng banget liat temen-temen, kakak dan adik angkatan banyak yang keren-keren dan cantik-cantik, nah ini hampir seisi kota penampilannya keren dan cantik semua! Kalo misal di Indonesia kadang perbandingan penampilan antara artis dan rakyat biasa gap nya cukup  jauh, nah di Seoul ini biasa banget liat orang cakep/keren/cantik wara-wiri jalan kaki di penjuru kota; it was super pleasing for my aesthetic soul haha. Hal lainnya lagi adalah aku suka banget di Korea itu orang-orangnya ngga pergi ke mall untuk hang out; mereka punya beberapa pusat kota (semacam downtown) yang isinya komplek jalanan keren dengan berbagai pertokoan dan kafe and each one has different vibe! (I will talk about them later). Selain itu, taman dan tempat umum terbuka di Seoul juga cantik-cantik, bersih-bersih, dan hidup! Sering liat taman di Bandung makin lama ya ngga serame di awal-awal, tapi kalo di Seoul orang-orangnya suka banget nongki di tempat terbuka semacam taman! 
Pertokoan di daerah Myeongdong

Untuk masalah bahasa, I can say this is maybe the biggest barrier for me to explore the city. Memang sih aku yang tidak berbahasa korea aja rasanya udah cukup happy mengunjungi aneka tempat yang keren-keren di sana. But I was wondering if I could at least speak basic korean, pasti akan lebih banyak aneka tempat aneh-aneh lagi yang bisa aku kunjungi! Oiya, aku bisa baca dan menulis huruf hanggul, dan believe me or not, it helped a lot! Ngga. banyak orang korea bisa berbahasa inggris, jadi kadang agak sulit kalo mau nanya jalan, atau nanya hal lain. Udah gitu di Seoul google map juga tidak banyak membantu, orang-orang di Korea pake maps buatan Kakao atau Naver yang mana keduanya menggunakan bahasa korea. Jadi kemampuan untuk membaca atau menulis hanggul sangatlah bermanfaat terutama untuk mencari jalan menggunakan si maps Kakao atau Naver tersebut. Dan karena sekarang aku jadi sangat tergila-gila dengan Seoul, aku pastikan next time I go there, aku sudah harus bisa berbicara at least basic Korean!

Oh iya fyi, aku ini bukan tipe orang yang suka travelling sebenernya. I mean, I'm okay with going to places, tapi aku bukan tipe yang suka hal-hal touristy. Kayak contoh aku tinggal di Bandung tapi seumur-umur belum pernah (dan males banget) ke Trans Studio atau Tebing Kraton. Jadi pas aku ke Seoul, aku memang ngga bermaksud mengunjungi tempat-tempat semacam itu dan memilih untuk melakukan aktivitas seperti warga lokal saja haha. Untuk makanan juga, aku ngga sebegitu pengen nyobain makanan tertentu selama di Korea (belum lagi di penginapan aku karena disediakan dapur, jadi aku seringkali sarapan dan makan malam di penginapan aja), karena yaa sejujurnya selain makanan di Seoul itu lumayan pricey dan banyak sekali yang non halal (meskipun aku ngga terlalu strict soal ini...), jadi ngga akan ada postingan khusus soal kuliner Seoul yaa.

Oke sekian overview tentang perjalanan aku ke Seoul! Pastikan untuk mengecek postingan-postingan selanjutnya yang akan membahas aneka aspek tentang kota tersebut from my point of view, okay?!
Annyeong!

February 21, 2016

Tips Turun Berat Badan ala Lily

Halo hai, hari ini aku mau membahas hal yang cukup seru, yakni cara turun berat badan. Awalnya sih aku bikin postingan ini karena beberapa hari lalu ada sebuah artikel di sebuah media yang berisi tentang acara pasar petani di Bandung. Lha, apa hubungannya pasar sama berat badan? Wah kalau ini berhubungan banget, soalnya di artikel tersebut ada foto Lily nya! Jadi dulu sekitar akhir 2014 tuh aku memang suka bikin acara pasar petani sama temen-temenku dari komunitas Agritektur. Nah permasalahan utama dari foto Lily di artikel tersebut adalah... Lily nya tebel bangetss!
Ituloh yang pake topi dan kemeja putih itu...aku!


Saat keadaan tebal tersebut, aku ngga berani nimbang, tapi aku yakin itu berkisar antara 60kg-an (tinggi badan aku 155cm btw). Berat badan aku bisa dibilang fluktuatif, kadang gendut banget, kadang turun tapi ngga pernah 'langsing'. Badan aku sih selalu dalam kategori chubby/chunky/semok/demplon dan aneka sebutan kegembilan lainnya. Yuk mulai membahas sejarah badanku dari pas SMP!

Kalo lihat foto aku pas SMP, persis banget sama sekarang. Dari segi wajah memang entah mengapa gini-gini aja (ngga nambah cantik wkwkwk). Dulu pas baru masuk SMP, aku gendut ngets karena pas kecilnya emang gendut. Kalo ngga salah masuk SMP beratku 60kg (iya pas SD gendut). Terus karena ikut OSIS (dan punya pacar?) aku turun 10kg, jadi berat aku pas kelas 2 pertengahan sampe lulus SMP itu ada di angka 50kg. FYI OSIS SMP aku itu emang agak-agak berat cuy! Pelantikan OSIS nya harus lari dari Cakung sampe Rawamangun yang mana itu kira-kira 12-14 kilometer. Belum lagi sebelum pelantikan itu kita kan harus latihan lari dulu biar kuat, jadi setiap pagi selama dua minggu harus lari subuh-subuh.. Yak jadi kalo mau turun 10kg di dua minggu coba deh lari 7km sehari haha (tapi bukan ini tipsnya tentu).
Aku dan teman-temanku saat kelulusan SMP (aku yang paling kanan) *maap blur maklum 10 tahun lalu*


Masuk SMA, beratku masih sama kaya SMP. Bahkan di awal kelas 3 SMA beratku masuk kepala 4 akhir. Tapi itu hanya bertahan sebentar karena aku...ke US untuk pertukaran pelajar. Awal ke US masih biasalah badan nya, tapi setahun di sana... aku nambah 10kg lagi dan kembali menginjak angka 60kg. Gendut! Ya ngga heran banyak makan keju, kentang, susu, junk food...
Aku pas baru sebulan di US (aku yang kanan ya awas ketuker!)
Aku pas baru balik dari US *iya yang tangannya montok sebelah kanan*

Pulang ke Indonesia aku kembali ke makanan Indonesia, berat akupun turun meskipun ngga banyak. Akupun stabil di angka 55kg sampe masuk kuliah. Awal masuk kuliah akan tetapi aku sakit pencernaan mayan parah sehingga berat badan cukup drop. Aku ngga nimbang tapi aku perkirakan ada di angka 50-52kg. Begitu sembuh dari penyakit pencernaan tersebut (setelah kurang lebih sakit hampir setaun bulak-balik terapi), nafsu makan aku meningkat, dan jadilah aku gendut kembali (sampe foto di artikel yang di awal tadi). Saat itu emang karena banyak tugas kuliah dan sibuk jadi bawaannya sering jajan dan makan apa aja; karena lapar itu artinya aku ngga bisa ngapa-ngapain. Tiap pagi datang ke kampus nyemil, jam 10an nyemil lagi, siang makan, sore nyemil, malem makan, kalo begadang tengah malemnya pasti makan lagi. Yak alhasil meskipun saat itu aku pernah ngga makan daging (vegetarian) dan lumayan rajin olah raga (aerobik), berat badan aku tetap aja nambah haha.

Jaman gendut banget pas tingkat 3 kuliah (foto sama Kak Hajid)

Yak mari dizoom kegendutan ini~

Awal 2015, aku memutuskan bersama orang kantorku saat itu untuk diet mayo. Waktu itu emang lagi kekinian banget tuh diet yak, jadilah kami bersama-sama diet. Kalau boleh dikata, diet mayo tuh susah banget cing! Iya sih cuma 2 minggu, tapi menu tanpa garam yang diaturnya tuh masya Allah bikin badan sering kali lemes dan mual karena bosen sama makanannya dan alhasil nggak dimakan. Pas diet mayo berat badan aku turun 4kg aja, dari 60kg ke 56kg. Yah meskipun dikit tapi saat itu aku sih seneng banget.

Tapi memang aku ternyata ngga cocok diet ekstrim macam itu... Setelah lepas dari diet mayo, aku kembali lagi ke pola makan biasanya dan ya...gendut lagi! Akupun sadar akhirnya diet isn't right for me... Kalo dia ngga sustain (kita ngga bisa makan kaya gitu in regular basis), artinya pola makan itu ngga cocok buat kita. Akupun akhirnya selama hampir setahun belakangan merombak cara makan dan minum aku hingga sekarang timbanganku berada di angka 52kg lagi dan orang-orang yang lama ngga jumpa pasti bilangnya "Lily kurusan!" (akupun tertawa dalam hati hahaha). Ternyata caranya enak, dan lumayan gampang asal stick to it. Aku juga ngga ngikutin diet raw/organic food/clean eating /food combaining yang hits banget itu karena simply bahan-bahannya kok mahal. Aku sih ngarang sendiri aja sambil cari-cari literatur atau artikel pendukung di internet. Oh iya ini beberapa tips nya:

1. Ngga minum yang manis-manis
Setahun belakangan, baik di kosan maupun kalo makan di luar (and basically everywhere), aku kalo minum itu cuman air putih sama teh tawar panas (kadang teh tawar dingin juga sih). Jadi ngga ada tuh aku beli teh b*tol, fr*it tea, c*ca c*la, dan minuman rasa-rasa lainnya. Awalnya hidup ini rasanya hambar, tapi lama-lama lha aku malah jadi gak doyan minuman manis. Paling aku masih suka (paling sebulan 2-3x) beli yogurt heav*nly bl*sh, ya*ult atau po*ari s*eat. Selain itu udah jarang banget minuman dikasih gula, kalau minum jus juga udah ngga pernah digulain.

2. Ngga jajan gorengan, cilok, cilor, cimol, cireng, pecel lele..
Intinya ngga pernah lagi jajan makanan pinggir jalan yang digoreng. Aku masih ngga terlalu strict sih; aku masih makan gorengan sekali-kali kok tapi syaratnya harus goreng sendiri atau beli di restoran. Kalo di pinggir jalan liatin deh minyaknya naudzubillah udah kayak oli. Setidaknya kalo goreng sendiri kan ngga oli banget minyaknya (aku malah sekali pake goreng buang sih), atau kalau kaya di resto cemcem Mc*onald's kan ya ngga mungkin sampe jadi oli masih dipake wong ada quality control nya (husnuzon). Aku juga kalo goreng sendiri sekarang beli minyaknya bukan minyak goreng dari sawit tapi seringan beli minyak kelapa. Oh iya FYI: aku masih mendingan nggoreng pake minyak goreng kelapa sawit daripada pake margarin (cemcem bl*eband, f*rvita, dll) karena ternyata margarin itu seburuk-buruknya olahan kelapa sawit! Eh bedain margarin sama butter (mentega) yak! Kalo butter mah masih oke, dia hewani tapi masih bagus buat dimakan. Cara bedain margarin sama butter? Cara gampangnya liat aja kalo butter biasa harganya mahil! Hahaha.

3. Lebih sering masak sendiri
Sederhananya sih, dengan masak sendiri kita jadi tau persis apa aja yang kita masukkin ke dalam badan kita (asal ngga pake bumbu instan wkwk). Siapa di sini yang bilang ngga bisa masak?? Resep jumlahnya bertaburan di luar sana, tinggal ikutin plek tuh resep pasti sukses deh apa susahnya sih. Aku ngga ngerti gimana, padahal aku ya kalo masak ngga sehat-sehat banget jugak, tapi semakin lama ya makin disehat-sehatin; kadang ngga makan pake nasi (tapi masak lauknya banyak jadi tetep kenyang), kalo beli nasi juga beli yang merah/coklat, mulai beli pasta whole grain, sayur makin dimacem-macemin dsb. Cari juga alternatif bahan pengganti yang lebih sehat, semisal aku suka ganti santen pake yogurt plain atau susu evaporasi pas bikin kari, atau tadi udah kusebut coba ganti deh jangan pake minyak kelapa sawit. Masak tumis-tumis tuh katanya dah paling sehat, sedikit minyak, gampang, enak, yang mau pada belajar masak gih belajar tumis-tumis dulu.

4. Makan 'Enak' sekali-kali ngga apa-apa
Suka makan padang? Aku juga! Clean eating emang sehat sih, tapi kalo ada desakkan dari dalam pengen makan yang 'cheating' mendingan sekali-kali diturutin. Coba bayangin karena ditahan-tahan lama, sekalinya sengaja atau ngga sengaja kemakan tuh makanan cheating, pasti jadi super kalap. Jadi mendingan dijatah aja, misal seminggu satu ada dua kali boleh lah kita makan padang atau makan soto betawi, biskuit coklat-coklatan atau apa deh makanan dosa yang jadi kesukaan kamu.

5. Mau ngemil?
Coba beli kacang kulit atau nori. Itu sekarang snek rutin aku kalo pengen kraus kraus. Masih suka sih kadang beli ciki, tapi ngga sering. Paling kalo lagi di jalan ke luar kota doang pengen nyemil biar ngga ngantuk. Tapi biasa juga ngga dimakan sendiri banget kok, pasti bagi-bagi ke orang lain juga.

6. Kurangi porsi makan!
Terasa banget sekarang porsi makan aku berkurang. Dulu makan nasi seporsi aja suka kurang, sekarang aku makan nasi seporsi itu untuk dua kali makan alias sekali makan setengah porsi. Belajar kalau makan ngga kalap emang susah, tapi aku sih caranya adalah dengan sering-sering makan sama orang yang juga menjaga berat badan. Kita pasti kalo liat dia ngambil makanan lebih dikit dari kita kan ada ngebatin tuh, "wah dia lebih dikit makannya daripada akoh, gawat ntar aku jadi lebih gendut dari dia." Atau sering-sering makan sama pacar kamu, kalo kamu cewe rada ndut (bukan yang kurus atau langsing yak haha) dan makan nya sama porsinya ma pacar kamu pasti dalam hati juga ngebatin "masa aku makannya sama porsinya ma doi.." cara tersebut mayan ampuh lho untuk membiasakan kita mengurangi porsi makan. Ntar lama-lama bahkan pas makan sendiripun jadi kebiasaan porsinya berkurang dari pas dulu biasanya.

7. Olah raga!
Yak ini juga penting. Sebenernya bisa banget turun berat badan dari jaga makan doang, tapi gak afdol. Kamu pasti pengen langsing tapi tetap bagus badannya alias ngga kerempeng tak menarik kan? Satu caranya ya olah raga! Ada lho orang yang turun beratnya, kelihatan kurusan tapi tetap chunky padahal beratnya sama kaya orang yang badannya bagus, itu ya karena si chunky ngga olah raga, jadi massa sih sama tapi volume ngga bisa bohong wkwkwk. Aku olah raga sih santei aja, kadang aerobik, kadang ikutin mbak Cassey (cek nih www.blogilates.com) di youtube pop pilates-pilatesan, kadang renang, kadang lari sore, kadang nge gym, ya apa aja yang penting bikin seneng.

Dah itu aja tipsnya dari aku dan telah aku jalani kurang lebih setaun terakhir. Hasilnya ngga drastis...karena ini bukan diet, tapi perubahan pola makan dan gaya hidup. Yak setaun turun 8kg kan ngga banyak ya.. Ratenya hanya 0,67kg perbulan.
Ini foto Lily bulan Februari (atas minggu 1, bawah minggu 2) 2016 ini, udah langsingan mayan cyinnn
Coba diliat foto muka after (atas) dan before (bawah)

Nanti juga ada kalanya pasti dengan gaya hidup ini berat ngga turun lagi karena udah berarti mentok sampe disitu. Kalo kamu pengen lebih turun lagi yak bersihin lagi tuh cara makan dan perbanyak olah raga. Aku sih emang ngga pengen aja terlalu kurus, yah apalagi muka ini lebar entah mengapa kalo terlalu kurus ya aneh kali ya nanti ngga kuat nopang kepala (?). Target aku cuma sampe 50kg aja ngga muluk-muluk. Aku rasa berat segitu dan tinggi aku yang 155cm ini udah oke banget kok. Oke sekian saja tips Lily kali ini, ingat, jangan berdiet! Tapi rubah gaya hidup agar hasilnya lebih sustain yak!


Love,
Lily

February 18, 2016

[RESTO REVIEW] - RM Surya, Bendungan Hilir

Hai.

Singkat cerita, gara-gara Dendeng Batokok Dago (baca postingan sebelumnya) aku jadi keranjingan makan Dendeng Batokok. Kebetulan suatu hari di awal tahun 2016 ini, ada kesempatan aku mendekam di sebuah hotel bintang lima di kawasan Sudirman, Jakarta; karena mendekam dan sering lapar siang-siang, akhirnya aku liat-liat di Go Food mana tau ada resto enak di daerah sekitar situ. Ternyata di BenHil (Bendungan Hilir) tuh banyak banget makanan yang review nya bagus-bagus, salah satunya RM Surya, salah satu rumah makan padang terfavorit (kata review orang) di Jakarta. Yak karena lagi demam dendeng batokok, akhirnya saat itu aku delivery Dendeng Batokok-nya RM Surya. Sesaat kemudian, seorang driver Gojek mengantarkan nasi bungkus padang itu ke hotel...

Kebuyatakan yang Nyata
Banyak orang yang suka makan padang dibungkus soalnya katanya nasinya lebih banyak; tapi kalo aku personally males dibungkus karena buyatak alias acak-acakkan. Sambelnya ya ngilang ditelen nasi, sayurnya ya ngga dipisah jadi campur aduk rasanya. Terlepas dari keberantakkan nasi padang, aku di sini mau review batokoknya; hanya ada satu kata yang menggambarkan Dendeng Batokok RM Surya: ASIN! Dagingnya sih gede dan harganya lumayan (Rp 22.000 seporsi pake nasi), tapi mungkin yang masaknya kebelet dikawinin?? Asin bangetttss... Akhirnya bumbunya aku pinggirin untuk mengurangi rasa asinnya.

Setelah Dendeng Batokok yang terlalu asin, rupanya aku masih belum kapok nyobain RM Surya lagi. Alasannya sih sederhana, kalo denger review katanya yang top nya memang bukan dendengnya. Beberapa minggu setelah dendeng asin itu, akupun makan Surya lagi, tapi kali ini ngga dibungkus, alias langsung ke tempatnya. Ini beberapa foto-fotonya (kali itu niat sampe bawa SLR haha).

Sate Padang

Soto Padang (Paru)

Menu lainnya

Saat kedatangan hari itu yang dipesen cuman Soto Padang (Paru) dan Sate Padang, mari dibahas satu-satu!
1. Soto Padang (Paru)
Ini soto padangnya sumpah ENAK pake banget! Kuahnya bening-bening kaya akan bumbu, ada soun dan potongan perkedel kentang di dalamnya alamaaakkk... Belum lagi potongan parunya gurih dan banyak, bikin makan tambah semangat. Sebenernya dikasih sambelnya kayak sambel ayam pop gitu, tapi aku lebih suka makan si soto ini bening-bening. Yang paling bikin happy sih karena ngga semua resto padang sedia menu soto padang, dan terakhir kali makan soto padang tuh udah berapa tahun yang lalu, dan ini sekalinya pesen soto padang dapet jackpot! Suer harus pada cobain! Kalo ngga doyan paru bisa diganti daging atau bisa dicampur juga daging dan paru kok. Harganya seporsi 26.000 aja, worth the price.

2. Sate Padang
Ada dua aliran sate padang menurut aku (sotoy); yang bumbunya coklat, dan bumbunya kuning. Yang di RM Surya ini kebetulan yang bumbunya kuning. Aku sih ngga ada preferensi khusus asalkan enak, dan yang di RM Surya ini kebetulan juga SUPER MAKNYUS. Aku bisa katakan selevel sama Sate Padang Ajo Ramon Pasar Santa yang terkenal itu. Dagingnya gede-gede, bumbunya ngga terlalu pedes tapi pas, salah satu makanan favorit deh pokoknya. Harganya sekitar 28.000 per porsi.

Dua kali menjajal RM Surya rasanya tak cukup...Hingga akhirnya minggu lalu sekali lagi aku mampir ke resto padang ngeunah tersebut. Kali itu aku mencoba menu yang dibilang seluruh review di internet sebagai 'must try' nya RM Surya: Rendang. Sayang karena super lapar aku ngga sempat moto si rendang, tapi berikut pendapat aku tentang si rendang:

Awalnya skeptis. Dulu pas SMP punya tetangga orang padang yang tiap bulan dikirimin rendang aseli dari kampung halamannya. Rendangnya kering, ngga basah dan rasanya yang enak menjadi benchmark buat semua rasa rendang yang aku makan setelah itu (ya tebak aja deh kalo udah makan yang asli suka jadi males makan yang KW wkwk). Kenapa awalnya aku ngga pesen rendang di RM Surya pas kunjungan sebelumnya (malah pesen sate sama soto haha) adalah karena aku lihat rendangnya basah (ada bumbu minyak-minyaknya gitu ngga kering). Tapi ya aku berpikir aku harus coba lah, wong kata orang-orang enak kok. Pas pesen rendang dan coba makan ternyata memang...ENAK! Ngga ngerti gimana jelasinnya, tapi suer enak banget! Ibaratnya dagingnya abis, aku rela makan sama bumbunya doang deh! Biasanya aku kalo makan padang nasinya jarang habis, ini aku makan nasinya ludes, sayur nangkanya yang seporsi sendiri ludes, lalapan daun singkong dan buncisnya habis. Aku jadi mikir sendiri, mungkin yang tetangga aku itu rendangnya emang sengaja dikeringin biar awet dikirim dan disimpen, jadi bukan patokan standar kenikmatan dan ketepatan masak rendang (lagi-lagi sotoy). Oh iya seporsi nasi rendang cuman 22.000 aja, mantap.

Overall makan di Surya, puas banget! Yang kecewa hanya batokok, tapi 3 menu lain yang dicoba semua berhasil. Ada satu menu lagi di Surya yang penasaran pengen aku cobain tapi katanya cuman available di hari Jumat yakni Gulai Kurma. Katanya sih bukan kurma beneran digulein tapi entah apa, aku juga jadi penasaran. Yah siapa tau ada waktu hari Jumat aku sedang di ibukota kelaparan dan deket Benhil deh. Btw, kalo hari Jumat pas jumatan si Surya ini tutup sekitar jam 11-stgh 2 gitu buat Jumatan, jadi yang mau mampir coba makan siangnya ditunda rada sorean dikit atau brunch padang aja sekalia (haha ya keleess). Denger-denger kabar juga kalo bulan puasa si Surya tutup sebulan, ngga tau sih bener atau enggaknya, coba ditanya aja ke sana kalau kebetulan mampir yah, Guys.

Yang di Jakarta dan doyan Padang, boleh banget ke Jalan Benhil cari aja deh tuh RM Surya, tempatnya deket percetakan gede gitu. Oh iya aku entah jadi kepikiran mau jadi reviewer rumah makan padang kemaren ini...tapi aku batalkan sih takut kolesterol soalnya wkwkwk. Tapi kalo ada tempat makan Batokok enak lagi pastilah aku review (in fact udah ada 2 resto yang menyajikan Dendeng Batokok yang udah aku  jajal dan ngga sabar mau aku review). Akhir kata sekian review kali ini, selamat bulan Februari, selamat malam!

Lily